Prinsip dan Pendekatan Kegiatan Pembelajaran

Belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar untuk kebersamaan (learning to live together), merupakan pedoman yang perlu digunakan di dalam pembelajaran di kelas. Pembelajaran tidak seharusnya hanya mendudukkan siswa sebagai pendengar ceramah dengan guru memerankan dirinya sendiri sebagai pengisi informasi ke kepala siswa.

Siswa harus diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do). Kemudian interaksi para siswa dengan lingkungan fisik dan sosialnya menuntut kemampuan mereka untuk memahami pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sekitarnya (learning to know). Dari hasil interaksi dengan lingkungannya diharapkan dia dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan diri sekaligus membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok individu yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap posisitif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan masing-masing individu (learning to live together). Dalam konteks ini siswa perlu dilatih bekerja sama, terbiasa mendengar dan menemui pandangan yang berbeda namun siswa diharapkan masih tetap bersikap kritis.

Konstruktivisme
Pada dasarnya salah satu sasaran pembelajaran adalah membangun gagasan saintifik setelah peserta didik berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Pandangan konstruktivisme sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan/pengetahuan sendiri tentang lingkungan dan peristiwa/gejala alam yang ada di sekitarnya, meskipun gagasan/pengetahuan ini naif atau kadang-kadang salah. Mereka senantiasa mempertahankan gagasan/pengetahuan naif ini secara kokoh sebagai suatu kebenaran. Hal ini berlangsung karena gagasan/pengetahuan yang dimiliki peserta didik ini terkait dengan gagasan/pengetahuan awal lain yang sudah terbangun dalam wujud “schemata” (struktur kognitif) dalam benak siswa. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari “apa yang diketahui siswa”. Guru tidak dapat mendoktrinasi gagasan saintifik supaya peserta didik mampu mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non saintifik menjadi pengetahuan/gagasan saintifik. Dengan demikian, arsitek peubah gagasan peserta didik adalah peserta didik itu sendiri. Guru hanya berperan sebagai fasilitator penyedia “kondisi” supaya proses belajar untuk memperoleh konsep yang benar dapat berlangsung dengan baik. Beberapa kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi konstruktivisme antara lain:
o Diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan.
o Pengujian, dan penelitian sederhana.
o Demonstrasi, dan peragaan prosedur ilmiah.
o Kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertanyakan, memodifikasi dan mempertajam gagasannya.

About maskiazizah
Guru Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: